Penyakit kronis sering kali menyertai seseorang selama bertahun-tahun dan membutuhkan perawatan medis serta keperawatan yang berkelanjutan dan terkoordinasi dengan baik. Oleh karena itu, alur perawatan yang aman, komunikasi yang jelas, serta kerja sama yang erat antara semua tenaga profesional yang terlibat dalam perawatan menjadi semakin penting.
Di GPR Klinikum pun, keselamatan pasien menjadi prioritas utama. Mulai dari proses penerimaan, diagnosis, terapi, hingga pemulangan, berbagai langkah saling terkait untuk mencegah risiko dan memastikan perawatan terbaik.
Hari Keselamatan Pasien Sedunia menjadi momentum untuk memusatkan perhatian pada tugas penting ini dan semakin memperkuat kesadaran akan keselamatan pasien di kalangan karyawan, pasien, serta keluarga mereka.
Sebagai tanda nyata partisipasi ini, gedung GPR Klinikum akan bersinar dengan warna oranye—warna resmi keselamatan pasien—mulai Rabu malam hingga Jumat pagi. Sejak 2019, GPR Klinikum telah menjadi anggota penuh di Aktionsbündnis Patientensicherheit e.V. dan sejak saat itu secara intensif berkomitmen untuk menanamkan kesadaran akan tema keselamatan pasien di kalangan masyarakat.
Inti dari kegiatan tahun ini adalah berbagai layanan informasi dan konsultasi untuk kelompok sasaran yang beragam. Di area lounge di seberang Café Stolz, Tim Manajemen Risiko Klinis, Tim Kebersihan, serta Tim Konseling Diabetes akan memberikan informasi di stan kegiatan pada pukul 10.00–11.00 dan 15.00–16.00. Tim Manajemen Risiko menyediakan brosur, selebaran, dan materi promosi untuk menjelaskan instrumen keselamatan utama seperti Aturan 5-R (pasien yang tepat, obat yang tepat, dosis yang tepat, rute pemberian yang tepat, dan waktu yang tepat) serta daftar periksa ruang operasi. Fokus khusus diberikan pada “Pemberdayaan Pasien” sesuai dengan Rencana Aksi WHO, yang bertujuan untuk melibatkan pasien secara aktif sebagai mitra yang berdaya dalam proses perawatan mereka. Hal ini mencakup, antara lain, penanganan yang benar saat mengukur kadar gula darah, aspek-aspek penting dalam penyuntikan insulin, serta penanganan yang tepat terhadap hipoglikemia.
Hari aksi ini juga diadakan di bangsal-bangsal: Tenaga keperawatan membagikan brosur informasi langsung bersama nampan makanan kepada para pasien. Manajemen gizi menunjukkan bagaimana pola makan yang terarah, misalnya melalui asupan protein pada kasus malnutrisi, berkontribusi pada keselamatan pasien dengan penyakit kronis. Topik khusus tentang kebersihan disampaikan di stan di area lobi melalui poster-poster mengenai kebersihan pasien dan staf.
Selain itu, Divisi Farmasi & Onkologi memberikan informasi mengenai layanan konsultasi lintas sektor “Plus+” di poliklinik onkologi, dengan fokus pada keamanan terapi obat dan pemberian obat saat pasien dipulangkan. Standar yang dikembangkan oleh ADKA untuk tiga fase utama perawatan farmasi di rumah sakit (Standar ADKA - Publikasi ADKA - KPH) juga memberikan kontribusi penting bagi keamanan terapi obat. Dua staf GPR Klinikum juga turut berperan dalam pengembangan standar ini: Maika Bester, Kepala Apotek Rumah Sakit dan Pembelian Pusat serta Kepala Organisasi Pusat Hematologi dan Onkologi, serta Apoteker Dr. Bianca Weyer. Dengan demikian, GPR Klinikum secara langsung menyumbangkan pengalaman praktisnya dalam pengembangan lebih lanjut standar yang seragam untuk pelayanan farmasi yang aman di rumah sakit.
“Keselamatan pasien kami menjadi prioritas utama di GPR Klinikum, dan tentu saja hal ini berlaku 365 hari dalam setahun. Hari Keselamatan Pasien Sedunia memberikan kesempatan berharga bagi kami untuk meningkatkan kesadaran akan isu penting ini dan menunjukkan betapa pentingnya budaya keselamatan yang diterapkan serta keterlibatan aktif pasien demi keberhasilan pengobatan yang berkelanjutan,” tegas Direktur Utama GPR, Achim Neyer.
Dengan berpartisipasi dalam Hari Keselamatan Pasien Sedunia, GPR Klinikum menegaskan komitmen berkelanjutannya untuk menerapkan standar keselamatan tertinggi serta melibatkan pasien secara aktif dalam proses perawatan.
Tentang Hari Keselamatan Pasien Sedunia:
Hari aksi yang diprakarsai oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 17 September. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran global akan keselamatan pasien dan mengajak semua pihak yang terlibat – mulai dari pasien, keluarga, hingga tenaga kesehatan – untuk terlibat dalam dialog terbuka mengenai keselamatan di bidang kesehatan.
